Flores Indigenous Tour Report; Menyelami Kearifan Lokal di Kampung Wakos

Itok, our intership student

Nama Wisatawan: Mr. Leong

Tema Tur : Indigenous Tour 

Hari/Tanggal: Sabtu, 28 Maret 2026

Tempat: Ruteng & Wakos

Durasi Tur: 3 Hari 2 Malam

Guide: Mr. Irwan

Driver: Mr. Fandro

Ini adalah laporan perjalanan saya setelah pertama kali menjalankan tugas kepemanduan wisata selama masa Praktek Kerja Lapangan (PKL) dengan seorang wisatawan dari Hongkong yang liburannya diatur oleh agen wisata Flores Traveler. 

Tur ini berjudul indigenous tour dengan agenda mengunjungi tempat yang bukan merupakan objek wisata atau lebih dikenal dengan istilah off-the beaten track tour.

Kami mengawali tur ini dari Ruteng pada tanggal 28 Maret 2026.  Tepat pukul Delapan pagi, kami menuju ke hotel untuk menjemput wisatawan yang melakukan solo traveling di Pulau Flores. Kami bergerak dari kantor Flores Traveler ke Ara Garden Inn, tempat ia nginap, dengan menghabiskan waktu selama lima menit menggunakan mobil. Tiba di hotel, kami menunggu kurang dari 10 menit lamanya sebelum berangkat menuju kampung Wakos, kampung tujuan perjalanan kami dari rangkaian total enam hari tur di Pulau Flores, Indonesia.

Kampung Wakos letaknya di lembah gunung Poco Konde di Kabupaten Manggarai Timur. Secara administratif, kampung ini terletak di Desa Poco Ri’i, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur.  Di sini kami menghabiskan waktu tiga hari dua malam untuk menikmati suasana kampung serta berbaur dengan warga yang saat itu tengah mempersiapkan diri menyambut hari paskah.

Pertama bersua dengan wisatawan tersebut, saya menyapanya lalu menanyakan nama, asal, dan umur, dan dia menjawab; 

“Saya Leong, saya berasal dari Hongkong dan umur saya 34 tahun”, begitu perkenalan singkat kami setelah saya diberi kesempatan oleh Irwan, tour guide kami.

Selanjutnya, kami berkendara keluar dari kota Ruteng pukul 08:30 dan berhenti sejenak di sebuah kios untuk membeli snack, tempe, dan tahu sebagai bekal dalam perjalanan dan oleh-oleh untuk keluarga yang kami kunjungi.

Dalam perjalanan menuju ke kampung Wakos, 30 menit pertama, kami melewati jalur trans Flores yang ramai dilalui kendaraan dan selanjutnya kami masuk dalam kawasan hutan di wilayah Taman Wisata Alam Ruteng yang luasnya 32 ribu hektar dengan jalur sempit karena di kiri kanan bahu jalan dipadati dengan pepohonan hijau yang didominasi oleh jenis pohon balakacida (Chormolaena odorata)

Setelah satu jam 30 menit perjalanan, kami tiba di kampung Nceang. Di sini, kami berhenti sejenak untuk melihat anak-anak yang sedang asyik mandi di sungai dan memotret seorang kakek yang pulang mencari kayu bakar di kebun.

Seorang Bapak dari Waling
Seorang Bapak dari Kampung Waling pulang mengambil kayu bakar di kebun

Kami meneruskan perjalanan ke Wakos melintasi jalur aspal yang sudah rusak hingga  kendaraan yang kami tumpangi akhirnya berhenti di penghujung aspal di sebuah kampung bernama Lamba.

Dari Lamba, kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sejauh satu kilometer melewati jalanan agregat yang sudah ditancap bebatuan, menyusuri sungai kecil dengan lanskap persawahan berundak memenuhi pemandangan di kiri dan kanan jalan. Sejauh mata memandang, kami juga disuguhkan lanskap perkebunan kopi yang hampir memadati lembah gunung Poco Konde yang memagari empat anak kampung dalam wilayah Desa Poco Ri’i. 

Saya mengamati Leong sangat asyik menikmati perjalanan. Ia acap kali terlihat memotret pemandangan di sepanjang jalan dan wajahnya terlihat begitu bercahaya ketika mendapati para petani yang melintasi jalanan dari arah berlawanan sambil memikul kayu untuk dibawa pulang ke rumah. Ia memanfaatkan momen itu untuk memotret menggunakan smartphone kesayangannya. 

Perjalanan yang harusnya bisa ditempuh dalam waktu kurang dari 30 menit kami habiskan satu jam lamanya hingga kami tiba di kampung Wakos sebelum jam makan siang. 

Potret seroang ibu dari Kampung Lamba
Potret seroang ibu dari Kampung Lamba yang hendak pulang ke rumah setelah bekerja di ladang

Hari Pertama di Wakos 

Kami disambut oleh warga di kampung Wakos dengan penuh sukacita. Kami memasuki rumah warga yang bernama Nimus atau akrab disapa Bapa Riska, tempat kami menginap selama dua malam. 

(Oia, bagi orang Manggarai, panggilan untuk seseorang yang sudah berkeluarga lebih sopan bila disapa dengan menyebut bapa atau mama terlebih dahulu diikuti dengan nama anak pertama).

Sebelum memulai seluruh rangkaian tur di Wakos, kami awali perjumpaan dengan mengikuti ritus wae lu’u sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur dari penghuni rumah yang kami tempati. 

Kami selanjutnya disuguhi makan siang sambil bertukar cerita dan ngobrol santai bersama dengan keluarga besar Bapa Riska. Setelah makan siang, Leong menikmati kopi pa’it atau kopi tanpa gula khas Manggarai Timur. Leong juga mencoba menghisap rokok yang ia linting sendiri, orang lokal menyebutnya rongko koli yaitu rokok yang terbuat dari pucuk daun palem dan tembakau kering.

Ia mengaku bahwa itu kali pertama ia merokok tapi saya melihat Leong sangat menikmatinya hingga ia beberapa kali tidak menolak ketika ditawari untuk merokok oleh warga di kampung Wakos.

Setelah sekian lama ngobrol, kami pun pergi ke kebun untuk mengunjungi kebun kopi milik Bapa Riska meski cuaca saat itu tidak bersahabat tapi kami sudah melakukan persiapan sebelumnya dengan membawa mantel dan sepatu trekking. Kami menyusuri sungai kecil dan melewati mata ari untuk menuju pondok tempat kami beristirahat. Di pondok itu kami menikmati ubi keladi yang direbus menggunakan air di tungku api menggunakan kayu bakar. Setelah hujan mereda, kami melakukan aksi tanam kopi robusta di sekitar pondok dan akhirnya kami kembali ke rumah untuk bersiap-siap pergi berburu katak pada malam hari untuk menu makan malam.

Kami meninggalkan rumah Bapa Riska jam tujuh malam menuju lokasi perburuan bersama dengan Bapa Riska, Ande dan Huber yang juga dikenal akrab dengan aktivitas perburuan katak ini. 

Keduanya berprofesi sebagai petani namun pada malam hari mereka kerap sekali keluar rumah bersama dengan anjing peliharaan untuk berburu tupai dan katak sebagai tambahan menu makan malam untuk istri dan anak-anak mereka.

Pada malam hari itu, Bapa Riska menargetkan lima tangkapan saja tapi kenyataannya setelah dua jam berburu, mereka berhasil mendapatkan sembilan hasil tangkapan yang kesemuanya adalah katak yang mereka temukan di sekitar kebun dan mata air berjarak satu sampai dua kilometer dari Wakos. Kami pun menikmati makan malam dengan katak goreng sebagai menu spesial. 

“Sungguh sebuah pengalaman yang sangat nikmat”, gumamku dalam hati.

Leong
Mr. Leong dari Hongkong sedang berpose sambil memegang dahan kayu yang ditancapi seekor katak hasil tangkapan warga
Katak
Katak hasil perburuan di Kampung Wakos

Setelah makan malam, Irwan menjelaskan ke Leong tentang program untuk hari berikutnya. Setelah itu, Irwan memberitahukan kepada saya bahwa program tur wajib diinfokan ke tamu pada hari sebelumnya setelah makan malam agar tamu tahu apa aktivitas yang akan dijalankan pada hari berikutnya. 



Hari kedua di Wakos

Hari itu bertepatan dengan hari Minggu dan lebih spesialnya karena warga Wakos merayakan misa yang dipimpin oleh seorang Imam karena hari Minggu itu adalah Minggu Palma di mana umat katolik merayakan pekan suci paskah diawali dengan merayakan misa di kapela stasi Wakos dalam wilayah Paroki Tilir, Keuskupan Ruteng. 

Sebelum ke gereja pada pukul 11 siang, kami menuju ke persawahan milik Gusti yang lokasinya berjarak dua kilometer dari rumah Bapa Riska. Kami mengikuti aktivitas rutin dengan memberi makan kerbau. Warga Wakos menyebutnya sebagai takung dongkong, yaitu aktivitas memberi makanan berupa dedaunan pohon dan rumput kepada kerbau pada pagi dan sore hari. 

Kami melihat warga Wakos sudah sedang menuju ke gereja ketika kami dalam perjalanan pulang menuju rumah Bapa Riska hingga kami pun segera menyiapkan diri ke gereja.

Di sela-sela persiapan yang tergesah-gesah itu, kami mendapati pengalaman yang begitu menyenangkan ketika mencoba mandi di air pancuran yang lokasinya berjarak selemparan batu dari rumah Bapa Riska. 

Aktivitas mandi di luar rumah sambil melihat pemandangan kampung yang dihiasi hamparan sawah dan alam pegunungan menggerakkan hati Leong untuk bergegas mengambil gawainya untuk memotret kami yang sedang asyik mandi.  

 

Mandi di Wakos
Mandi di Wakos dengan view alam yang indah

Tidak butuh waktu lama untuk menuju ke gereja dari rumah Bapa Riska. Bersama dengan warga Wakos kami memadati gedung kapela. Dari anak-anak hingga orang dewasa turut hadir saat misa sehingga para panitia paskah di Wakos harus mendirikan tenda di sekitar gedung kapela.

Misa yang berlangsung satu jam 30 menit itu ditutup dengan kegiatan sekolah Minggu yang dipimpin oleh Irwan bersama dengan Ibu Nadia, seorang guru dari PAUD di Wakos. 

Kami bermain, bernyanyi, dan bergoyang ria bersama dengan anak-anak di Wakos. Mereka diberikan quiz dengan beberapa pertanyaan, bagi yang menjawab benar, akan diberikan hadiah berupah buku tulis, buku gambar, serta pensil yang sudah disiapkan oleh Leong. 

Kegiatan sekolah Minggu di gereja akhirnya ditutup dengan foto ria bersama dan saya diberikan kepercayaan sebagai photographer. 

 

Irwan dan anak-anak PAUD
Irwan dan anak-anak PAUD bernyanyi dan bergoyang ria saat sekolah Minggu.

Sepulang dari gereja, kami dijadwalkan mengunjungi salah satu rumah warga untuk memenuhi undangan makan siang. 

Aneka hidangan disiapkan oleh keluarga Bapa Dan mulai dari nasi putih, sayur singkong, sup ayam, kopi pa’it, pisang, hingga ubi keladi rebus sebagai makanan penutup. Sebelum sajian makanan lezat itu, terlebih dahulu, Leong disuguhkan sirih pinang sebagai kudapan pembuka sebagai ucapan selamat datang dan ungkapan terima kasih atas kunjungan dari tamu spesial yang mengunjungi rumah mereka. Leong juga tidak luput dari rongko koli untuk dinikmati bersama dengan bapa-bapa yang turut hadir saat jamuan makan siang.

kapur sirih
sirih pinang persembahan dari mama dan untu Leong
Ronko Koli
Bapa Atik menyiapkan "rongko Koli" untuk Leong

Akhirnya cerita dari kampung Wakos memberi pengalaman berharga bagi saya tentang kearifan lokal warga yang masih terpelihara dengan baik dan bagi saya ini adalah pengalaman tur yang tak terlupakan.

(Semua foto di atas adalah courtesy dari Leong dan saya berteima kasih karena ia mengizinkan saya dan Irwan untuk memakai foto-foto di atas untuk dipublikasikan melalui media ini.

Best Travel Theme

Elementor Demos

With Love Travel WordPress Theme you will have everything you need to create a memorable online presence. Start create your dream travel site today.

Flores Traveler